Senin, 30 Desember 2019

SEJARAH SINTREN DI BEBERAPA DAERAH




tarian sintren berasala dari pulau jawa khususnya di Cirebon. Tetapi di beberapa daerah lain juga diketahuhi mempunyai tarian yang sama. Misalnya di indaramayu, majalengka, banyumas, kuningan, tegal, pemalang, dan wilayah  jawa tengah yang lain. Kota-kota yang mempunyai tarian sintren yang diatas tidak memiliki  perbedaan yanag mencolok.
1.CIREBON
Tarian sintren merupakan sebuah seni tari tradisional dari Cirebon yang mengandung unsur magis, nama sintren yang ada pada tarian ini ternyata merupakan gabungan dari dua kata yakni si dan tren yang mana dalam bahasa Jawa kata si merupakan sebuah ungkapan panggilan yang memiliki arti ia atau dia, sedangkan kata tren berasal dari kata tri atau putri sehingga sintren memiliki arti si putri atau sang penari.
2.INDRAMAYU
Kebudayaan masyarakat Jawa yang melekat pada masyarakat Indramayu salah satunya adalah Sintren, Sintren adalan kesenian tradisional masyarakat Jawa, khususnya Pekalongan. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, Cirebon, dan Indramayu. Sintren disebut juga dengan lais. Di Indramayu sendiri, kesenian Sintren dipentaskan pada acara-acara tertentu, misalkan hajatan atau syukuran, atau pentas seni tradisional. Dahulu ada pentas seni Sintren yang berkeliling kampung, namun sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan karena semakin tergeser oleh pentas dan hiburan modern.
3.BANYUMAS
Kesenian Sintren atau Laisan mulanya berasal dari kisah legenda kasih asmara antara Sulandono yang merupakan putra Ki Baurekso hasil perkawinan dengan Dewi Ratnasari dan Sulasih yang merupakan putri desa.
Namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu Ki Baurekso. Akhirnya Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari, meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam ghaib.
Kesenian Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci dibantu oleh pawang (mlandang) diiringi lagu-lagu pujian dan iringan karawitan seadanya. Dalam perkembangannya tari Sintren sebagi hiburan budaya, kemudian dilengkapi oleh penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat ini juga terdapat sosok Dewi Lanjar yang sangat berpengaruh dalam pertunjukkan Sintren. Dewi Lanjar merupakan roh (indhang) yang diundang untuk memasuki tubuh sang penari Sintren).
Kehadiran Dewi Lanjar yang merasuk pada tubuh penari Sintren inilah yang membuat sang penari terlihat lebih cantik dan lebih lincah mempesona saat membawakan tarian tersebut.
4.PEMALANG
Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Banyumas,Kabupaten Kuningan, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal juga dengan namalais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis.
5.PEKALONGAAN
Keseniaan ini dimainkan oleh penari permpuan dan diiringi alat music gamelan. Dengan kurungan kain yang akan menjadi anti klimaks dari ritwal keseniaan ini. Sang penari yang biasanya berdandan cantik (bisa dibilang yang muda lebih menarik) karena laksana tayub, lewat kelincahan gerakan dan gemulainya tubuh sang penari inilah yang akan menarik minat para lelaki untuk memberikan saweran dengan cara menari bersama mengikuti ritme alunan gamelan bertempo rancak.
Dari beberapa daerah diatas memang tidak ada perbedaan yang mencolok.

ALAT MUSIK YANG MENGIRINGI TARI SINTREN




Musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, nada, dan keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni. Mendengar musik adalah sejenis hiburan. Musik adalah sebuah fenomena yang sangat unik yang bisa dihasilkan oleh beberapa alat music.
Musik dikenal sejak kehadiran manusia modern Homo sapiens yakni sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu kapan manusia mula mengenal seni dan musik. Dari penemuan arkeologi pada lokasi-lokasi seperti pada benua Afrika, sekitar 180.000 tahun hingga 100.000 tahun lalu telah ada perubahan evolusi pada otak manusia. Dengan otak yang lebih pintar dari hewan, manusia merancang pemburuan yang lebih terarah sehingga bisa memburu hewan yang besar. Dengan kemampuan otak seperti ini, manusia bisa berpikir lebih jauh hingga di luar nalar dan menggunakan imajinasi dan spiritual. Bahasa untuk berkomunikasi telah terbentuk di antara manusia. Dari bahasa dan ucapan sederhana untuk tanda bahaya dan memberikan nama-nama hewan, perlahan-lahan beberapa kosakata muncul untuk menamakan benda dan memberikan nama panggilan untuk seseorang.
pada masa lalu alat musik yang mengiringi pagelaran sintren merupakan jenis-jenis alat musik yang terbilang sederhana, diantaranya adalah ;
  • Buyung, alat musik semacam gendang yang terbuat dari tanah liat dengan ditutup lembaran karet diatasnya. Penggunaan alat musik buyung inilah yang melatarbelakangi sebagian penari sintren pada masa lalu disebut sebagai ronggeng buyung (ronggeng yang diiringi oleh alat musik buyung)
  • Tutukan, alat musik yang terbuat dari bambu panjang dan besar yang pada masa sekarang disamakan fungsinya dengan alat musik bas.
  • Bumbung, alat musik yang terbuat dari ruas-ruas bambu yang berukuran kecil yang pada masa sekarang disamakan fungsinya dengan gitar melodi atau sejenisnya.
  • Kendi, alat musik yang terbuat dari tanah liat yang berfungsi sama dengan gong.
  • Kecrek, alat musik yang berfungsi sebagai pengatur ritme nada.
Pada perkembangannya di masa-masa kemudian, baju penari sintren kemudian berubah menjadi mengenakan baju golek yakni pakaian yang mirip dengan yang dikenakan oleh wayang golek sebagai atasannya, namun bawahannya tetap menggunakan kain batik dan celana cinde serta masih menggunakan jamang, kaos kaki dan kacamata hitam sebagai pelengkapnya, perubahan tidak hanya terjadi pada bentuk pakaiannya saja, instrumen pengiringnya juga bertambah dari yang tadinya hanya berisikan buyung, tutukan, bumbung, kendi dan kecrek kemudian dilengkapi dengan penambahan instrumen gamelan Cirebon sebagai pelengkapnya.
Alat music dari Cirebon :
GongSekati
MUSIK yang hanya digelar setahun sekali pada awal Rabiul Awal ini dikenal dengan nama "gong sekati". Satu rentetan musik yang terdiri atas gamelan Jawa (Cirebon) yang hanya ada di Keraton Kanoman. "Gong sekati" merupakan ucapan lidah lokal Cirebon yang berarti gong syahadatain. Istilah sekaten juga ada di Keraton Yogya dan Surakarta yang digelar pada saat Grebeg Mulud. Lagunya sederhana "Bango Butak" yang mirip iringan gamelan renteng penyambut tamu agung.
Gamelanrenteng
Pada seni musik, gamelan sekaten memberikan ilham terhadap seniman saat itu untuk membangun sebuah gamelan pengiring penerima tamu agung. Gamelan itu dikenal sebagai "gamelan renteng". Catatan Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Cirebon (1992/1993) menyebutkan, gamelan ini pemberian dari Mataram untuk Cirebon, dibawa Ki Ageng Gamel Syekh Windu Aji pada masa Sunan Gunung Jati. Gamelan renteng disebut juga "gamelan dawa". Berasal dari dakwah, yang berarti gamelan tersebut sebagai alat dakwah.

AngklungBungko
Sebenarnya musik ini merupakan musik dan tarian perang (baca: tawuran) antarwarga desa pada masa awal Islam. Bungko merupakan sebuah desa yang terletak di pinggir pantai. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai nelayan. Dari desa itulah "angklung bungko" lahir. Alat musik yang digunakan dalam kesenian ini adalah angklung. Bentuknya hampir sama dengan angklung Sunda masa kini.

Tarling
Kesenian yang satu ini merupakan puncak kreativitas seniman Cirebon dalam merombak tradisi gamelan menjadi gitar dan suling. Tarling lahir diperkirakan sejak masa pos-kemerdekaan, yakni sekitar tahun 1945-an. Semula kesenian ini merupakan bagian dari kesenian pribadi untuk merayu gadis atau janda pada masa itu. Lagu-lagu yang dibawakannya bersifat improvitaris, seadanya, dan seketemunya. Pada periode berikutnya tarling digubah dalam bentuk "kiseran" (balada). Muncullah opera rakyat Cirebon. Salah satu kiser terkenal, di antaranya "Kiser Saidah Saini" berikutnya "Kiser Baridin dan Ratminah" Berbarengan dengan itu tarling terus mengalami perubahan dalam perjalanannya.

TARI TOPENG BARONG SANGGAR SEKAR PANDAN


Seni adalah salah satu kebudayaan yang mengandung nilai indah dan memiliki ciri khas masing-masingnya. Sanggar yaitu, suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu  komunitas atau sekumpulan orang untuk melakukan pelatihan suatu kegiatan. Jadi, Sanggar Seni yaitu suatu tempat yang digunakan oleh sekumpulan orang untuk melakukan pelatihan (belajar) suatu kebudayaan yang mengandung nilai indah yang memiliki ciri khas.

Sanggar Seni Sanggar Pandan berdiri pada tanggal 05 Mei 1992 di dirikan oleh Heri Komara Hadi Arkaningrat  (Elang Heri) dan keluarga nya dari keraton atau yang biasa di panggil Elang Tomi. Sanggar Seni Sekar Pandan ini sudah berdiri 27 tahun lama nya.  Sanggar Seni Sekar Pandan berada di komplek Keraton Kacirebonan Jl. Jagasatru, Pulasaren, RT 04/RW 02 No.74 Kec. Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Perumahan itu sangat sederhana,mirip dengan perumahan padat di daerah Jakarta. Namun disini lebih bersih dan juga tenang. Warga disini pun merupakan orang-orang keturunan Kesultanan Kacirebonan. Itu salah satu alasan yang menjadikan Elang Heri mendirikan Sanggar Seni Sekar Pandan disitu. Alasan nya beliau mendirikan Sanggar Seni Sekar Pandar yaitu, karna tradisi leluhur Cirebon yang merupakan warisan dari keluarganya dan juga beliau ingin mengenalkan dan mengembangkan kesenian tradisional Kota Cirebon kepada generasi,dimulai sejak dini.Dan tanggung jawab moral berada di keluarga keraton menjadi alas an utama untuk mengembangkan kesenian yang sejak dulu sudah ada. Tak semulus harapannya, mencari anggota sanggar ternyata tak mudah. Mengembangkan seni tradisional tari, music, rupa, dan suara. Karena nya, Heri Komara Hadi pun dikenalkan kesenian tradisi sejak ia kecil yang dirasanya sangat sulit sampai akhirnya tertanam rasa memiliki terhadap kesenian pada dirinya, yang membuatnya mendirikan Sanggar Seni Sekar Pandan ini.

Bagi Heri Komara Hadi atau yang biasa dipanggil Elang Heri, kesenian merupakan sebuah tontonan dan tuntunan.  Terdapat symbol, makna, dan pesan yang perlu dikaji pelaku dan penonton. Hal itu termasuk dalam sebuah apresiasi pelaku seni. Sanggar Seni Sekar Pandan ini di dirikan dan dibina langsung oleh Heri Komara Hadi. Pembelajaran yang terdapat di Sanggar Seni Sekar Pandan Cirebon dimulai dari tingkat dasar atau untuk pemula. Pada saat awal mendirikan sanggar ini tidaklah mudah, pria yang akrab dipanggil Bang Heri ini harus berkeliling ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan sanggar nya dan tentu nya mendapatkan anggota.


Tari adalah gerak tubuh yang secara berirama senada dengan alunan music yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan,mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Tari juga diiringi oleh bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian yang disebut music pengiring tari mengatur suatu gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan dari tarian tersebut. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru.

Topeng Barong merupakan perpaduan dari seni Barongsai dan dari seni Tari Topeng Cirebon yang merupakan ciri khas dari Sanggar Seni Sekar Pandan. Barongsai merupakan kesenian asal negeri Tiongkok. Perkembangan kebudayaan Cirebon memang banyak terpengaruh dari kebudayaan Tiongkok. Mengingat letak Kota Cirebon yang berada di pesisir dan menjadi lokasi strategis untuk politik dan kebudayaan pada abad ke-15.

Tari Topeng Barong merupakan salah satu jenis tarian yang berkembang di Sanggar Seni Sekar Pandan oleh Elang Heri Komarahadi yang di ciptakan nya pada tahun 2001. Tari Topeng Barong merupakan tari kreasi yang menceritakan konflik manusia dalam mencari nilai-nilai kebenaran. Dalam penciptaan tarian ini, Elang Heri Komarahadi sendirian, Sanggar Seni Sekar Pandan berkolaborasi dengan Sanggar perguruan Seni Beladiri Kelabang (Kesadaran, Latihan, Membangun) . Mula nya Topeng Barong ini di tawarkan agar bisa dapat di padukan dengan Seni Barongsai, akhirnya Sanggar Seni Beladiri Kelabang mencoba menerima tawaran itu dan bekerja sama dengan Sanggar Seni Sekar Pandan. Akhirnya tercipta lah tarian baru yang akhir nya di namakan “Topeng Barong”.

Pada awal perkembangan nya, bangsa Tionghoa tidak menerima keberadaan Topeng Barong, mereka tidak menerima bahwa Barongsai di padukan dengan Tari Topeng yang merupakan tarian khas Cirebon. Tetapi setelah warga Tionghoa sadar bahwa mereka tinggal di daerah Cirebon, akhirnya tarian Topeng Barong perlahan lahan bisa di terima oleh bangsa Tionghoa.

Penyajian Topeng Barong merupakan perpaduan Seni Barongsai dan Tari Topeng tradisional Cirebon, Tari Topeng yang di ambil adalah Tari Topeng Kelana Cirebon, yaitu Topeng Songong dan Topeng Semblep. Topeng Barong memiliki gerak yang bersemangat, gembira, disertai dengan gerakan bobodoran. Topeng Barong ini ditarikan oleh dua orang laki-laki, satu penari memakai kostum warna hitam dan satu penari lagi nya warna putih. Warna hitam dan putih menandakan bahwa sifat manusia tidak ada yang selalu putih dan tidak ada juga yang selalu hitam. Di dunia ini manusia pasti memiliki sifat baik tetapi di sisi lain pasti memiliki sifat buruk. Warna hitam dan putih juga melambang sifat Yinyang, yang dalam kebudayaan Tiongkok, Yinyang yaitu artinya adalam berpasang-pasangan (ada perempuan dan juga ada laki-laki, ada siang dan juga ada malam, serta ada baik dan juga ada buruk).

Menurut Elang Heri Komarahadi ada syarat khusus untuk menjadi penari Tari Topeng Barong. Siapapun, bisa menjadi penari Topeng Barong, namun ada beberapa kemampuan yang khusus yang harus di kuasai oleh penari Topeng Barong. Yaitu, seni beladiri, akrobatik, dan kemampuan menari.
Topeng Barong menggunakan dua jenis pakaian yang berbeda, pakaian yang pertama adalah pakaian Topeng Songong yang terdiri dari; ikat kepala, baju kutung, celana sontog, ombyok, dam dodot. Warna identic dengan songong adalah putih, menggambarkan sifat manusia yang baik tapi masih melakukan keburukan, atau sebaik-baik nya manusia pasti mempunyai sifat buruk. Pakaian yang kedua adalah pakaian Topeng Semblep, yang terdiri dari; ikat kepala, baju kutung, celana sontog, ombyok, dan brusamir. Pakaian Topeng Semblep identic dengan warna hitam, warna hitam menggambarkan manusia yang berupa buruk, tetapi masih berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Kedua karakter saling berebut kebenaran, kemudian menyatu kembali untuk menyari suatu jati diri yang sebenarnya.

Tari Topeng Songong menandakan laki-laki, sedangkan Topeng Semblep menandakan karakter perempuan. Hal ini memiliki makna bahwasanya manusia harus hidup berpasang-pasangan, jika tidak, maka kehidupan akan pincang. Dalam penyajian nya Topeng Barong diiringi oleh musik. Musik yang mengiringi tarian Topeng Barong adalah gamelan Cirebon berlaras Pelog serta di padukan dengan alat musik pengiring Barongsai, seperti simbal dan tambur.
Tari Barong meruoakan tari kreasi baru yang tercipta atas kecintaan Elang Heti Komarahadi terhadap kebudayaaan tradisional. Tarian ini lahir untuk menambah hasanah kesenian di Jawa Barat, khususnya Cirebon. Tarian ini telah menjadi ciri khas dari Sanggar Seni Sekar Pandan.

MAKNA DARI SYAIR SINTREN




            Syair adalah jenis puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) Yang berakhir dengan bunyi yang sama. Syair digunakan untuk melukiskan hal-hal yang panjang misalnya tentang suatu cerita, nasihat, agama, cinta, dan lain-lain. Kata syair berasal dari bahasa arab, syu’ur yang artinya “perasaan”. Dilihat dari asal katanya, syair dapat diartikan sebagai ekspresi perasaan atau pikiran pembuatanya. Oleh karena itu, bait-bait dalam syair sangat banyak. Ditinjau dari struktur fisiknya, syair sangat terikat oleh jumlah baris dalam suatu bait, jumlah suku kata dalam setiap baris, jumlah bait dalam setiap puisi, dan aturan dalam hal rima dan ritma.
            Syair-syair yang mengiringi pagelaran sintren tidak terlepas dari latar belakang atau kisah-kisah yang mengikutinya, kisah romantis sulasih dan raden sulandono misalnya, kisah romantis tersebut yang amat kental dalam pagelaran sintren di wilayah suku jawa seperti si kabupaten batang serta kabupaten dan kota pekalongan tidak begitu terasa dalam pagelaran tari sintren di wilayah Cirebon walau dalam sebuah versi syair yang dilantunkan oleh sanggar tri sekar pandan, kesultanan kacirebonan masih menyelipkan nama keduanya namun pada praktiknya isi teriannya tidak mengisahkan sama-sekali tentang sulasih dan raden sulandono, isi tarian dan penjelasanya justru bernuansa dakwah islam.
            Menurut isinya, syair dapat dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
1.      Syair panji adalah syair yang yang berisi atau bercerita tentang keadaan yang terjadi dalam istana (kerajaan), keadaan orang-orang yang ada atau berasal dari dalam istana. Contohnya “syair ken tumbunan”.
2.      Syair romantis adalah syair yang berisi tentang percintaan pelipur lara, cerita rakyat. Contohnya “syair bidasari”.
3.      Syair kiasan adalah syair yang menrceritakan tentang percintaan antara ikan, burung, bunga, atau buah-buahan yang semuanya itu hanya simbolik yang terkandung di dalamnya, kiasan atau sindiran kepada peristiwa tertentu. Contohnya, “ syair burung pangguk”.
4.      Syair sejarah adalah syair yang berdasarkan peristiwa sejarah terpanjang, misalnya tentang peperngangan. Contohnya “syair perang mengkasar”.
5.      Syair agama adalah syair yang mengandung tema ajaran ilmu tasawuf. Agama tergolong syair terpenting, terbagi menjadi empat, yaitu: syair sufi, syair tentang ajaran islam, syair riwayat nabi, dan syair nasihat.
Ciri-ciri syair antara lain sebagi berikut:
v  Syair terdiri atas empat baris atau larik dalam setiap bait.
v  Syair tidak memiliki sampiran, seperti halnya dalam pantun. Dengan kata lain, semua baris mengandung isi dan makna.
v  Syair tidak sesuai dalam suatu bait.
v  Makna syair ditemukan oleh bait-bait berikut (hamper sama dengan paragraph dalam cerita).
v  Pola rimanya a-a-a-a (rima sama).
v  Irama terjadi pada setiap pertengahan baris  antara empat hingga enam suku kata.
Syair kembang putri mahendra
Ketika memasuki ruang pagelaran, pesinden melantukan syair seperti di bawah ini :

Turun turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange putri mahendra
Widadari temurunan

Ketika sintren dan dalang sintern telah bersiap ditempat dan akan memulai pementasan maka syair akan di dilanjutkan dengan syair seperti dibawah ini:

Kembang rampe oli tuku ning pasar kramat
Nok fani dirante kang rantee dalang mamat
Kembang rampe oli tuku ning pasar kramat
Sintrene dirante kang rantee dalang mamat

Gulung gulung glasah ana sintren lagi turu
penontone buru buru
gulang guling glasah ana sintren lagi turu
penontone buru buru

sulasih sulasih sulandono
menyangkuti ragane sukma
ana sukma saking surga
widadari temurunan

sulasih sulasih sulandono
menyangkuti ragane sukma
ana sukna saking sura
widadari temurunan

ketika ranggap (bahasa Indonesia: kurungan ayam) dibuka, maka syair Ya Robana (ya allah swt) yang meningatkan para penonton untuk segala bertaubat dilantunkan oleh pesinden seperi berikut:

ya robana, robbana, robbana
ya robana zhalamna anfusana
wa inlam tagfirlana
wa tarhamna lanakunanna
min al-khosirin

setelah sintren keluar dari ranggap dan kemudian berdiri, syair dirubah untuk menujukan bahwa sintren telah berdandan dan berganti baju serta para panjak (pemain music) siap untuk mengiringi penampilannya.
Turun turun sintren
Sintrene dandane suwe
Dandan kalunge sesumpinge
Dandan kalunge sesumpinge

Sintren jogged manise meseme
Panjak songgot rame-rame

Turun turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange putri mahendra
Widadari temurunan

Ketika prosesi pelemparan uang sudah selesai, maka dalang akan memasukan sintren kembali ke dalam ranggap tanda bahwa pagelaran akan segera berakhir.

Kembang kilaras ditandur tengahe alas
Paman bibi aja maras
Dalange suntren jaluk waras

Kembange srengenge surupane wayahe sore
Sawise lan sedurunge kesuwun ning kabehane


Syair kembang gewor

Pegelaran sintren dibuka dengan syair seperti brikut:

Turun turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange putri mahendra
Widadari temurunan ngaranjing ning awake ira

Ketika sintren sudah masuk ke ranggap (kurungan ayam) maka pesinden akan melanjutkan sengan syair sih sulasih untuk mengiringi peosesi pelepasan rantai yang membelit sintren dalam ranggap.

Sih sulasih sulandono
Meyan putih pengundangan dewa
Ala dewa saking sukma
Widadari temurunan

Syair kemudian dilanjutkan dengan syair kembang Gewor yang mengiringi datangan para Bodoran (bahasa Indonesia: pelawak) yang mengiringi pagelaran Sintren.

Turun-turun sintren Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira

Turun-turun sintren sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan

Kembang gewor bumbung kelapa lumeor
Geol-geol bu Sintren garepan njaluk bodor
Bumbune kelapa muda
Goyang-goyang nyi sintern minta bodor

Syair kemudian dilanjutkan dengan syair kembang Kates, Kenangan dan Jae Laos yang menandakan pagelaran Sintren akan segera berakhir, seperti berikut ;

Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Arep ngalor garep ngidul
Wis mana gageya lunga

Kembang kenanga
Pinggire kembang melati
Kembang kenanga pinggire
Kembang melati
Wis mana gageya lunga
Aja gawe lara ati

Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Ari balik gage elos sukiki menea maning

Syair Metu sing konjarah (keluar dari kurungan)

Clikung lawung klontongena bandanira (Intip lihatlah dengan hati-hati, berkumpulah, bebaskan belenggumu)
Clikung lawung klontongena bandanira (Intip lihatlah dengan hati-hati, berkumpulah, bebaskan belenggumu)
Ari sukma ngelontong, ngelontong salin busana (seandainya jiwa sudah terbebas, bebaslah ganti pakaianmu)

Simbar-simbar pati, lamun dadi ja kesuwen (simbar-simbar pati (wangsalan Cirebon: rambut mati (uban) ), seandainya sudah muncul janganlah malu)
Simbar-simbar pati, lamun dadi ja kesuwen (simbar-simbar pati (wangsalan Cirebon: rambut mati (uban) ), seandainya sudah muncul janganlah malu)
Tokena sing konjarah, tokena sing konjarah (keluarlah dari kurungan, keluarlah dari kurungan)
Nya bebet nya iket nya sabuk sakerise (bebet (kain yang diikatkan dipinggang), iket (kain yang diikatkan dikepala), sabuk beserta kerisnya)

Syair Sintren dibanda (sintren dibelenggu)

Ayu sintren terapena bandanira (ayo sintren siapkan belenggumu)
Ayu sintren tangan ditaleni (ayo sintren tangan diikat)
Badan ditaleni (badan diikat)
Arep manjing ning konjarah (mau masih ke kurungan)
Pangeranira lara tangis (pemimpinmu sedang menderita dan menangis)
Tangise wong keyungyun (tangisannya orang yang menarik hati)

Turun-turun sintren, sintrene widadari (datang-datang sintren, sintrennya bidadari)
Nemu kembang yun-ayunan, nemu kembang yun-ayunan (nemu kembang hendak dibawa kemana?)
Kembange cahaya indra, widadari temurunan (kembangnya cahaya indra, bidadari sedang datang)
Ngrajinga ning badanira (memasuki badanmu)
Syair Wari lais (air suci)
Syair Sintren Wari Lais (air suci) atau yang secara harafiah berarti pemuda dengan niat yang suci sering diperdengarkan dalam berbagai media seni selain Sintren, diantaranya adalah dalam kesenian Tarling Cirebon, lirik Wari Lais masih suka diperdengarkan lewat para penyanyi Tarling seperti mimi Dadang Darniah pada era 70an dan kemudian Diana Sastra.

Wari lais klontongena bandanira (air suci (pemuda dengan tujuan mulia) ) lepaskanlah belenggu dirimu)
Dunung ala dunung (ditempat-tempat manapun)
Dunung ala dunung (ditempat-tempat manapun)
Si Dunung ing bahu kiwa (tempat-tempat sudah menjadi tangan kiri ("ekstrem kiri") (tuduhan belanda mengatakan rakyat itu pemberontak)
Pangeranira lara nangis (pimpinanmu sedang menderita dan menangis)
Syair Tambak-tambak Pawon (menyalakan dapur)
Sebelum tarian Sintren dimulai, untuk menghimpun masyarakat sekaligus memberitahu bahwa akan ada pagelaran tarian sintren, pesinden sintren bisanya melantunkan syair berikut

Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul
Setelah masyarakat sudah berkumpul, pesinden kemudian melanjutkan dengan syair selanjutnya

Turun sintrén, sintréné widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan

Kang manjing ning awak ira
Turun-turun sintrén
Sintrené widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan

Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Arep ngalor arep ngidul
Wis mana gagéya lunga

Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Wis mana gagéya lunga
Aja gawé lara ati

Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Ari balik gagé elos
Sukiki menéya maning

Kembang kilaras
Ditandur tengaé alas
Paman-bibi aja maras
Dalang sintrén jaluk waras